Mikrotik

Ada perbedaan besar antara mereka IT Support yg benar-benar orang teknis (terutama yang sudah di dunia jaringan sejak lama) dan IT Support yg cuma hasil dari belajar otodidak. Karena belajar jaringan itu menurut gw lumayan mahal, butuh banyak waktu, tenaga, dan juga biaya untuk benar2 menguasai dunia jaringan. Minimal untuk menerapkan ilmu kamu di dunia jaringan, kamu butuh lebih dari satu komputer, kabel LAN, wifi receiver, dll.

Nah yang membedakan orang teknis sama orang2an yg belajar otodidak kayak gw biasanya adalah dalam hal penyebutan device dan peripheral. Contohnya, IT support di Kantor gw menyamakan penyebutan hub dan switch, padahal gw sebagai orang2an otodidak, pelajaran tentang switch/hub yang pertama kali gw pelajarin adalah Perbedaan antara keduanya. Kemudian orang teknis seringkali menggunakan penomoran IP secara default dengan 192.168.xxx.xxx, sedang gw si orang2an otodidak harus melihat dulu kebutuhan user, baru menentukan kelas IP mana yang cocok untuk jaringan di sini.

Dan salah satu hal yg akan kita bahas dalam tulisan ini adalah Mikrotik. IT support kantor gw menganggap mikrotik adalah device, sedangkan gw menganggap mikrotik sebagai OS.

Add a comment

Tulisan ini sebenarnya g penting-penting amat, tapi penting buat yg punya server online sendiri atau buat pengelola Hosting. Karena salah-salah server tersebut bisa jadi rumah penangkaran virus dan ujung-ujungnya bisa saja di blok oleh banyak antivirus/webbrowser karena dianggap membahayakan pengguna. Tulisan ini murni copas dari webblognya ESET (http://blog.eset.co.id/index.php/web-server-apache-menjadi-target-malware/ ), yang menurut gw merupakan salah satu Antivirus dengan Heuristic terbaik yang pernah gw pake... Jadi langsung saja ke inpohnya...

Add a comment

Sebenarnya dan sebetulnya gw sama sekali g berniat untuk nulis tulisan ini. Tapi karena gw udah matiin semua yg bisa diidupin di kamar gw (except myself and my phone, dont ask my clock because I dont have any clock in my room) sejak jam 20.30 dan sampai tulisan ini dibuat gw tidak kunjung berhasil tertidur, maka terbesitlah niat untuk nulis. Dan setelah gw pikir-pikir gw tidak punya cukup ide yg layak untuk ditulis (ada sih tapi gw males). Jadi biar posting gw nambah maka gw bikin tulisan ini.

Nah hal yang akan gw ceritain adalah *baca judulnya aja deh, gw males nulis* -lah terus ini tulisan apa?- *suka2 gw dong, gw yg nulis*. Dan hari ini pertama kali gw bayar listrik+air lewat atm rumah kontrakan gw di rawamangun. Add a comment

32vs64

Jadi pada suatu hari gw "main2" ke Kantor sebelah di DKI. Acara "main2" gw ini berjudul melokalkan program aplikasi webbased dari BPKP yang digunakan Pemda DKI. Tentunya gw bawa laptop dan source instalasi yang diperlukan, netbuk gw dengan RAM ddr3 2GB dan procie AMD single core 1.7Ghz (sekelas intel atom). Nah dari spek itulah neraka muncul. Gara2 source instalasi yang gw bawa rata2 buat windows 32bit, gw diledekin sama anak2 DKI. Karena ternyata semuanya udah pada pake windows 64bit dengan spek komputer yang jauh di atas gw. 

Dari bahan ledekan itu lah akhirnya gw memutuskan untuk ngepost tulisan tentang 32bit vs 64bit. Selamat membaca...

Add a comment

Wew

Kalo ngebaca judulnya emang agak rancu, biar g bingung gw mau nulis apa gw kasih kasusnya aja sama kalian. Jadi gw dikasih proyek untuk membuat aplikasi sederhana untuk pengaturan database kantor. Biar gampang aplikasi ini gw buat dengan dasar webprogramming, agar aplikasi ini bisa dijalankan di platform mana saja. (sebenarnya alasan utamanya karena yang gw bisa cuma web programming, desktop programming gw bener2 suck apalagi klo ketemu OOP).

Add a comment