Entah kesialan apa yang membuat saya membaca sebuah biografi tentang seorang Indonesia yang sukses di jepang dengan meraih gelar profesor dan  4 gelar doktor di 4 disiplin ilmu yang berbeda. Uwaw, ini orang dahsyat banget yak, sayangnya kedahsyatan dia tidak dia sumbangkan sepenuhnya untuk ibu pertiwi Indonesia. Untuk itu, mari kita lihat apa kata wikipedia tentang Si sipit satu ini (y dia tionghoa, jangan nyebutin orang tionghoa sebagai orang cina, karena kebanyakan mereka g suka dibilang cina oleh tiko-tiko indonesia *nosara please)

Prof. Dr. Ken Kawan Soetanto alias Chen Wen Quan (lahir di Surabaya tahun 1951) adalah seorang profesor di School of International Liberal Studies (SILS) dan mantan Dekan Urusan Internasional Divisi Waseda University, dimana ia juga Direktur Klinik Pendidikan dan Science Research Institute (CLEDSI). Sejak tahun 2005 ia juga menjadi profesor di Venice International University, Italia. Sebelumnya menjabat posisi fakultas di Amerika Serikat pada Universitas Drexel dan di Fakultas Kedokteran Universitas Thomas Jefferson.

Dr Soetanto adalah pakar yang memegang empat gelar doktor dalam disiplin ilmu yang terpisah (Rekayasa, Kedokteran, Farmasi Sains dan Pendidikan), dan penelitian pada latar belakang yaitu bidang interdisipliner dari bidang kempat ini. Ia telah mempublikasikan secara luas di beberapa bidang, terutama psikologi, pendidikan, pedagogi, mekanisme motivasi, obat-obatan, DDS, pengukuran dan peralatan, serta rekayasa biomedis.

Metode perkuliahannya unik dan sangat memotivasi, telah banyak didokumentasikan di Jepang dan lebih jauh sebagai 'Soetanto Metode' dan 'Soetanto Efek'.

Dia adalah anggota fellow dari Society Akustik of America, dan The American Institute of Ultrasound Kedokteran, serta anggota senior IEEE, dan telah menjabat sebagai penasihat pemerintah untuk Jepang Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri, dan sebagai anggota dari Visi Pemerintah Jepang inisiatif abad ke-21.

Jadi kurang dahsyat apalagi bapak dosen yang satu ini? Walaupun masa kecilnya banyak dihabiskan di Surabaya, tapi dia tidak gentar sama sekali dengan orang-orang jepang yang memang imagenya pintar-pintar dan kreatif. Kita lihat yuk riwayat pendidikan bapak pintar kita ini.

  • SD Ta Chung, SD Shi Hwa, SD Ming Jiang di Surabaya
  • SMP Chung Chung di Surabaya
  • SMA Chung Chung di Surabaya
  • Sarjana Teknik dari Universitas Pertanian dan Teknologi Tokyo (Tokyo University of Agriculture and Technology), Jepang (1977)
  • Doktor Aplikasi Rekayasa Elektronika dari Tokyo Institute of Tecnology, Jepang (1985)
  • Doktor Ilmu Kedokteran dari University of Tohoku, Jepang (1988)
  • Doktor Ilmu Farmasi dari Science University of Tokyo, Jepang (2000)
  • Doktor Ilmu Pendidikan dari University of Waseda, Jepang (2003)

Sampai SMA ternyata dia sekolah di Surabaya. Lalu bagaimana anak Suroboyo ini bisa sampe ke jepang? Pasti bapaknya orang kaya y? ternyata tidak juga saudara-saudara. Ken Soetanto ke Jepang berbekal dari usahanya sendiri.

 

Suatu hari, keahlian Soetanto di bidang elektronik mencuri perhatian seorang pelanggannya yang kebetulan berkewarganegaraan Jepang. Orang itu kagum melihat cara Soetanto ’menganalisis’ sekaligus memperbaiki kerusakan radionya.

"Orang Jepang itu lantas menawari Soetanto belajar elektronik ke Jepang. Orang itu tidak menyediakan dana, tetapi hanya kalau mau belajar ke Jepang, bakal difasilitasi," kata Longtjing Tandi, kerabat dekat Prof Soetanto, yang kini menetap di kawasan Pinangsia, Jakarta Pusat, kemarin.

Soetanto langsung tertarik. Rasa penasaran mengalahkan segalanya, termasuk siap berjauhan dengan orang tua di Surabaya. Keinginannya belajar elektronik tersebut diceritakan ke semua orang. Menariknya, hal itu menjadi bahan lelucon di kalangan kerabatnya.

"Waktu itu ada saudara yang bilang, bagaimana kamu mau belajar ke Jepang, wong letak (negara) Jepang saja tidak tahu. Apalagi, kamu (Soetanto) warga keturunan. Piye toh," kenang Longtjing.

Toh, semua itu tak membuat Soetanto patah arang. Ini dibuktikan dengan langkahnya yang bersemangat mencari tahu bagaimana belajar ke Jepang dari berbagai informasi. Soetanto juga siap memecah celengan untuk ongkos membeli tiket dan biaya hidup beberapa bulan bila sampai di Jepang. Dan, pada 1974, atau saat berusia 23 tahun, Soetanto pun akhirnya jadi juga terbang ke Jepang.

Salah satu ketertarikannya belajar di Negeri Sakura karena inovasi televisi merek Jepang yang semakin tahun menjadi maju. Produk televisi merek Jepang, antara lain, Toshiba dan Sanyo, kala itu menjadi tren karena teknologi transistor memungkinkan bentuk televisi menjadi lebih kecil dan trendi. Ini sekaligus menggantikan teknologi televisi sebelumnya yang menggunakan tabung.

"Saya memang penasaran dengan teknologi transistor. Ini inovasi luar biasa. Sebab, sebelumnya banyak televisi Eropa merek Grundig dan Philips yang tampilannya jauh lebih gede karena menggunakan tabung," kata Soetanto.

Dia benar-benar bermodal nekat. Betapa tidak. Soetanto terbang ke Jepang hanya dibekali uang hasil tabungannya setelah enam tahun menjadi manajer di toko elektronik. Celakanya, Soetanto sama sekali tidak bisa berbahasa Jepang.

Menurut Longtjing, Soetanto sesampai di Tokyo sejenak menetap di rumah warga Jepang kenalannya sewaktu di Surabaya. Selanjutnya, dia mencari informasi rumah kos di dekat kampus. Soetanto awalnya menginginkan kuliah satu tahun di Electronics Institute dan langsung pulang ke Surabaya.

Tetapi, dia menyadari bakal kesulitan belajar di perguruan tinggi tanpa menguasai bahasa Jepang. "Saya selanjutnya berangkat ke Osaka. Saya belajar singkat tentang bahasa Jepang," jelas Soetanto.

Pria berkacamata itu sempat kesulitan belajar bahasa Jepang karena ada pengajarnya yang menegur, kalau belajar bahasa Jepang di Osaka, harus menggunakan logat Osaka. Dan, lambat laun Soetanto pun akhirnya bisa menguasai bahasa Jepang.

Impian Soetanto baru terpenuhi setelah tiga tahun "hidup menggelandang" di Tokyo. Nama Soetanto keluar sebagai dua di antara 30 pelamar beasiswa mahasiswa asing yang ditawarkan pemerintah Jepang.

Selanjutnya, Soetanto kuliah di TUAT (Tokyo University of Agriculture and Technology) dengan mengambil jurusan teknik elektronik. Selepas mengambil gelar sarjana, Soetanto melanjutkan ke program master dan doktor. Yang menarik, Soetanto mengambil dua program doktor. Yakni, doktor bidang teknik di Tokyo Institute of Technology (1985) dan bidang kedokteran di Tohoko University (1988).

Begitu meraih gelar dua doktor, Soetanto pulang ke Surabaya untuk yang pertama. Kesempatan itu benar-benar dimanfaatkannya untuk menyunting gadis impiannya yang kebetulan teman sebangkunya semasa di SMA Ching-chung. Soetanto dan istrinya terpaksa untuk sementara berjauhan karena kembali masuk ke bangku perkuliahan program doktoral. Istri, orang tuanya, dan mertuanya pun memaklumi tekad bajanya dalam menimba ilmu.

Selang beberapa tahun kemudian, dia menamatkan lagi program doktor bidang farmasi di Science University of Tokyo. Nah, ada kejadian menggelikan ketika beberapa kerabatnya dari Indonesia, termasuk Longtjing, diundang menghadiri wisuda program doktor Soetanto yang keempat.

Sesampai di ruang wisuda, ternyata Longtjing tidak tahu-menahu bidang pekerjaan yang ditekuni kerabatnya itu. Ditanya pekerjaannya, Soetanto hanya bilang sebagai pengangguran. "Dia bilang kerja pengangguran. Kalaupun kerja, itu serabutan," ungkap Longtjing.

Dia tidak percaya dan bertanya kepada keempat profesornya yang kebetulan mengikuti wisuda. Profesor yang mempromotori Soetanto serempak menyatakan bahwa dia adalah aset perguruan tinggi termahal karena kecerdasannya yang luar biasa. "Itu (mahasiswa) nomor satu. Selama lima puluh tahun mengajar di sini (Science University of Tokyo), saya belum pernah punya mahasiswa secerdas dia (Soetanto)," ujar profesor seperti yang dikutip Longtjing. Pendek kata, semua menilai positif kemampuan akademik Soetanto.

Toh, jawaban tersebut tak menghilangkan rasa penasaran Longtjing. Dia justru semakin penasaran mengapa seorang mahasiswa cerdas justru bekerja serabutan.

Soetanto lantas menjelaskan kegalauan Longtjing. Dia menyatakan, iklim pendidikan tinggi di Jepang tidak mendukung seseorang yang cerdas dijamin mendapat posisi penting. "Ini Jepang. Di sini, senioritas masih berlaku. Jadi, kalaupun saya punya empat gelar doktor pada usia 37 tahun, itu belum tentu bisa diterima. Saya perlu antre dulu untuk bisa bekerja seperti mereka," jelas Soetanto.

Penjelasan tersebut akhirnya dimengerti Longtjing. Dan, Longtjing mengusulkan agar dia bisa mengambil program doktor lagi ke AS. Usul Longtjing itu direspons Soetanto. Dan, dia akhirnya memilih terbang ke AS untuk menjadi akademisi di Drexel Unversity dan Thomas Jefferson University, Philadelphia. Di dua universitas tersebut, Soetanto tercatat sebagai associate professor. Otaknya juga diakui akademisi AS terbukti mampu meraih bantuan riset senilai USD 1 juta dari NIH (National Institutes of Health, USA).

Tampaknya, Soetanto tidak bisa bertahan lama berada di komunitas perguruan tinggi di AS. Maklum, selama berada di AS, dia mengaku rindu dengan suasana penuh romantisme dan "etik" Jepang yang hanya ditemukan di Negeri Sakura.

Bak gayung bersambut, profesornya di Jepang, Motoyosi Okujima, kebetulan meminta agar dia balik ke Jepang untuk membesarkan Toin University of Tokyo (TUY). Dan, tawaran tersebut akhirnya memaksa Soetanto kembali ke Jepang pada 1993.

Di TUY, Soetanto mendapat posisi sebagai profesor dan ketua Program Biomedical Engineering Departement of Control and Systems Engineering. Dia juga mendapat jabatan lain sebagai direktur Center for Advanced Research of Biomedical Engineering di TUY yang dibiayai Kementerian Pendidikan Jepang. Jabatan lain yang dijabat hingga sekarang adalah wakil dekan di International Affairs of Waseda University.

Popularitas Soetanto di kalangan akademisi di Jepang pernah terdengar di telinga mantan Presiden RI B.J. Habibie. Habibie yang kala itu menjabat Menristek pada era 1980-an pernah bertemu hingga empat kali untuk meminta Soetanto pulang kampung memperkuat jajaran akademisi di Indonesia.

"Tetapi, Soetanto masih ingin tinggal di Jepang. Saya nggak tahu alasannya menolak pulang ke Indonesia," jelas Longtjing.

Dalam wawancara dengan koran ini, Soetanto mengaku belum tertarik pulang ke tanah air karena perhatian pemerintah terhadap akademisi dinilainya kurang. Padahal, kala itu Habibie menawari Soetanto untuk bergabung di BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) dan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia).

Kendati menolak tawaran pulang, kecintaan Soetanto terhadap tanah kelahirannya tak sedikit pun berubah. Hingga detik ini, Soetanto mempertahankan kewarganegaraan Indonesia. Untuk melepas kerinduan dengan sanak familinya yang tinggal di Jalan Darmahusada, Surabaya, Soetanto biasanya pulang sekali setahun.

Yang menarik, karena masih ada darah Tinghoa, Dubes China di Jepang juga pernah menawari Soetanto berpindah kewarganegaraan ke China. Tawaran itu pun ditolak. "Saya masih WNI. Paspor saya masih Indonesia," tegasnya singkat.

Perjumpaan Habibie dengan Soetanto bisa dibilang tidak sengaja. Suatu ketika, Habibie sedang mengunjungi koleganya beberapa doktor universitas di Tokyo. Soetanto memfasilitasi pertemuan itu dengan menjadi penerjemah (bahasa Jepang) antara Habibie dan para doktor. Suatu ketika, Habibie menyentil siapa penerjemah itu kok fasih berbahasa Indonesia dan Jepang. Pertanyaan Habibie itu dijawab koleganya bahwa dia doktor berkewarganegaraan Indonesia. "Dia mahasiswa program doktoral dengan prestasi jempolan," kata kolega Habibie.

Habibie tenyata pernah menyampaikan keinginannya ’memulangkan’ Soetanto ke hadapan Pak Harto. Karena itu, saat ada kunjungan dinas ke Jepang, Soeharto pernah menemui Soetanto. "Saat itu beliau (Soeharto) juga meminta Soetanto pulang, tetapi tetap ditolaknya," kata Longtjing. Longtjing mengetahui apa pun aktivitas Soetanto karena selama berada di Tokyo selalu berkomunikasi lewat telepon.

Mungkin perjalanan saya untuk menjadi seperti tokoh yang satu ini masih sangat amatlah jauh. Apalagi dengan jalan pendidikan yang saat ini saya enyam sepertinya tidak memungkinkan untuk bisa menjadi seperti beliau. Tapi sampai sekarang saya masih punya rencana hidup yang sudah saya buat sejak saya gagal waktu SMA, dan walaupun kemungkinan dilaksanakannya rencana itu untuk saat ini hampir amat sangat mustahil, tapi obsesinya masih ada. Semoga suatu hari nanti saya bisa sukses seperti Pak Ken, semoga nanti kita bisa ketemu di suatu ajang akademis untuk berbagi pengalaman dan pelajaran hidup yang sudah anda jalani. Tetap semangat teman-teman, kita masih muda dan hidup kita masih panjang.