Sekelumit dari pembicaraan di sebuah Warung Tegal antara seorang Mahasiswa dan ibu-ibu penjual di Warteg. Si Mahasiswa bersikeras bahwa Soeharto adalah presiden yang buruk, Banyak utang luar negeri, korupsi dimana-mana. Mahasiswa ini selalu menyebut bahwa Diantara presiden-presiden Orde Baru dan Era reformasi (mungkin presiden yang dia alami) SBY merupakan yang terbaik dan paling realistis. Walaupun harga mahal tapi semua terencana, dan indikator ekonomi membaik.

Sedangkan Ibu warteg berkeras bahwa Soeharto jauh lebih baik dari SBY. Harga murah, aman, dan rakyat hidup enak. Tapi si Mahasiswa langsung sekali lagi membantah dan bilang walaupun harga murah, tapi itu semua dari utang luar negeri. Soeharto kerjanya korupsi, melanggar HAM, dan lain-lain. Semua kedigdayaan ekonomi jaman Soeharto itu semu, tidak untuk jangka panjang, lihat saja utang kita meraja lela. Sekarang kita menanggung utangnya Soeharto.

Counter balik si ibu warteg sangat menusuk kalau menurut saya. Kita rakyat kecil mungkin memang tidak mengerti apa yang barusan kamu bilang. Kita tidak mengerti apa yang kamu bilang indikator ekonomi meningkat, kita tidak melihat dengan jelas kemiskinan yang menurun. Kita memperhatikan berapa banyak utang Luar negeri Indonesia saat ini. Orang kecil (penjual di warung tegal) lihat adalah hal-hal yang kongkrit. Untuk dulu, memang saya tidak kaya, tapi untuk mencari makan tiap harinya tidak sesusah sekarang. Yang orang kecil lihat hal-hal yang benar-benar berkenaan dengan mereka. Bisa membeli barang dengan murah, dan tidak kesulitan untuk sekedar mencari makan untuk hari ini.

Kata-kata tersebut mengajarkan pada kita bahwa, kita mungkin butuh pengakuan dunia dengan utang Luar Negeri kita yang kecil, indikator pertumbuhan ekonomi yang bagus, tingkat kemiskinan yang makin menurun (menurut data BPS), dan investor yang berbondong-bondong ke Indonesia. Tapi jika kita berbicara dengan orang kecil, yang notabenenya tidak mengerti dan mungkin tidak mau tahu hal-hal tersebut. Yang mereka tahu harga harusnya tidak makin mahal, orang-orang putus asa sehingga jadi penjahat pun tidak sebanyak sekarang. Jadi seorang pemimpin tinggal memilih, baik di mata dunia dengan segala indikator utang luar negeri yang semakin membaik, atau baik di mata masyarakat dengan utang dimana-mana. Bahkan ada ungkapan yang pernah saya baca bahwa "Rakyat pun tidak masalah jika Seorang pejabat korupsi, asalkan dia mampu memberikan kesejahteraan dan kemakmuran kepada rakyatnya. Anggap saja korupsi itu upah bagi mereka dalam mengurusi negara ini".

SBY: Mengurangi utang (katanya), mengendalikan perekonomian dengan segala indikator ekonominya. Presiden RI Keenam ini bukan presiden yang bisa disepelekan kinerjanya. Dia cukup ekspresif, cukup berani menumpahkan perasaan di muka publik, dan bagi orang-orang di sekelilingnya dinilai sebagai pemimpin yang tegas, konsisten, elegan, dan taat hukum. Di bawah pemerintahannya hingga periode kedua ini, Indonesia secara bertahap mulai bangkit dari keterpurukan. Fondasi ekonomi dan demokrasi mulai dikonsolidasikan, dan sesungguhnya ini merupakan bekal dan landasan yang sangat baik untuk memacu kemajuan Indonesia ke depan.

Namun sayang, di bawah kepemimpinan SBY Indonesia justru sangat sering dilecehkan oleh Malaysia. Peristiwa demi peristiwa terus membuat masyarakat gusar dan seperti hilang kesabaran. Dalam ukuran diplomatik, semua sikap dan tindakan pemerintahan SBY terkait dengan provokasi Malaysia jelas dianggap sangat memadai. Tetapi bagi masyarakat, sikap SBY dinilai tidak tegas dan mengecewakan. Tidak pernah ada satu gertakan pun yang membuat Malaysia jera. Demikian juga setiap langkah para pembantu presiden juga seperti tidak ada efek yang cukup untuk menjerakan Malaysia.

Soeharto: Ekonomi harus stabil, dan berjalan walaupun harus dengan utang luar negeri yang sangat tinggi.Presiden RI Kedua berperangi sebaliknya dari Soekarno. Dia tidak suka menunjukkan emosinya kepada publik dan lebih banyak tersenyum untuk rakyatnya. Walau begitu, dia dikenal sebagai pemimpin yang sangat efektif dan presisi. Semua pembantu/menterinya fasih sekali menerjemahkan kebijakannya sehingga tereksekusi dengan baik. Itu sebabnya Seoharto memiliki pemerintahan yang sangat kuat selama 32 tahun.

Terkait dengan Malaysia, Soeharto tetap menunjukkan jati dirinya sebagai pemimpin yang tidak banyak bicara tetapi kebijakannya tegas dan efektif. Pada eranya pula ekonomi Indonesia maju sehingga negeri ini sempat menjadi kiblat dan tempat berguru bagi Malaysia. Dengan kekuatan ekonomi dan efektivitas pemerintahan, serta ketokohannya yang disegani di level Asia, Indonesia juga tidak dipandang sebelah mata oleh Malaysia. Soeharto adalah pemimpin yang kuat dan tegas.

 

Dari dua pemimpin ini menurut saya pribadi jelas sekali bahwa Soeharto sesungguhnya lebih baik. Mungkin karena tidak ada satupun dari keluarga saya yang menjadi korban pelanggaran HAM era Seoharto sehingga saya dapat memberikan pilihan ini. Kalau saja ada keluarga saya yang jadi korban mungkin anggapan saya akan sangat jauh berbeda.

Kita lihat saja dari segi ekonomi yang dimata banyak orang SBY lebih baik, ekonomi di era Soeharto memang penuh dengan utang Luar Negeri. Dan hasilnya yang kita tanggung sekarang. Ekonomi Indonesia sebelum krisis termasuk dalam kategori baik dari segala indikator yang ada. Dan mungkin saja, jika tidak terjadi krisis ekonomi 1997,ekonomi Indonesia bisa terus membaik dan mungkin bangkit dari sekedar pemain kecil menjadi pemain besar di dunia. Hal yang menjadi penyebab kenapa utang saat ini terasa berat adalah karena nilai tukar rupiah yang sangat jauh dari era Soeharto di kala stabil. Bayangkan saja, nilai tukar saat ini adalah 4 kali lebih besar dari nilai tukar dulu. Jadi wajar saja jika utang yang ada saat ini terasa berat, karena nilai tukar yang besar ini. Sehingga mungkin saja jika kenaikan nilai tukar tidak sebesar saat ini (dalam hal ini tahun 1997 tidak terjadi krisis) maka Indonesia tetap pada jalurnya dalam membangun sebuah perekonomian dan mampu bangkit menjadi bukan sekedar pemain kecil dalam ekonomi dunia.