Tidak!!! Ini bukan tulisan galau, dan posting ini dibuat bukan dalam keadaan saya sedang galau. Hanya satu paragraf tulisan yang saya temukan dari salah satu  artis dunia maya (tepatnya tumblr) yang menurut saya isinya lumayan menarik untuk dipikirkan (walaupun tidak semenarik tulisan-tulisan yang pernah saya baca sebelumnya). Masih ada tulisan Haruki Murukami yang memang penulis cerita galau yang menurut saya sangat menarik untuk dibaca, tapi tulisan YKA ini seperti yang saya katakan sebelumnya, lumayan menarik untuk kita pikirkan di waktu senggang.

 

Judul tulisan ini adalah Perpisahan, yang saya copas (tanpa izin sebenarnya) dari portal Kompasiana milik Yunus Kuntawi Aji. Berikut tulisan yang dapat kalian baca dan dalami pemikiran yang ada di dalamnya :((

"Selalu ada yang menyakitkan saat terjadi perpisahan antara dua orang manusia. Ya, selalu ada, seharusnya ada, sebenar-benarnya memang benar ada, dan sewajarnya ada. Selalu dan selalu. Seperti katamu. Satu hal yang patut dipertanyakan saat perpisahan, siapa yang menyakiti siapa. Siapa yang merasa disakiti dan siapa yang dituduh menyakiti. Perlu perenungan tersendiri terhadap makna ini. Setiap perpisahan terjadi, setiap kenangan-kenangan yang awalnya memang sengaja disimpan kuat-kuat di dalam memori yang terdalam sehingga melekat erat, kuat, meresap di dalam pikiran yang tak akan mungkin bisa menghilang meski sejuta malaikat berusaha menghilangkannya, setiap kenangan-kenangan itu malah menjadi duri tersendiri di dalam hati kita masing-masing. Hati-hati dalam menyikapi hati. Hati-hati saat merefleksikan perasaan sendiri yang akhirnya menjadi sedih, gundah, gelisah, ah jadinya lelah sendiri. Tapi setiap orang harusnya sepakat, tidak tercipta sebuah kesan seandainya perpisahan tidak diliputi perasaan-perasaan sedemikian. Malah jadi hambar dan cepat terlupakan. Padahal, justru sensasi-sensasi dari pedihnya perpisahan itulah yang sangat kita cari-cari, sangat kita nikmati, tanpa disangkal juga disesali. Tanpa sensasi-sensasi itu tidak ada perasaan-perasaan yang akhirnya tidak ada kenangan, tidak juga perpisahan, apalagi pertemuan, tidak ada cerita."